Posted by: marchdul | March 13, 2011

STOP! SAMPAI DISINI SAJA!


Salma berhenti di depan rumah Dinda untuk menjemputnya. Salma membunyikan belnya agar Dinda segera keluar. Waktu sudah menunjukkan pukul 6.55, padahal mereka masuk sekolah pukul 7.00..

Akhirnya Dinda keluar dari rumahnya. Dinda duduk di belakang Salma, dan bunyi kayuh yang cepat terdengar. Untung saja sampai di sekolah gerbang belum ditutup. Santi menyapa Salma, dan Dinda pergi ke kelas menaruh tasnya, tanpa berkata apa-apa. “Sal, kamu tidak kesal dimanfaatkan Dinda terus? Dia memanfaatkan kebaikanmu, Sal! Kalau tadi Dinda terlalu lambat, pasti kalian berdua sudah terlambat,” omel Santi. Salma hanya tersenyum dan berkata,”Biarlah, karena kita harus membantu sesama kita. Maklum, rumah dia berdekatan dengan rumahku. Kalau hanya membonceng, aku tidak keberatan kok..”

Santi mengajak Salma untuk ke kantin, tetapi di jalan menuju kantin, Dinda mencegat mereka dan berkata dengan raut wajah yang layu. “Sal, boleh tidak aku meminjam catatan IPS mu untuk difotokopi?” Pinta Dinda. Salma mengangguk, kemudian berlari ke kelas dan memberikannya kepada Dinda. Dinda langsung berlari ke tempat fotokopi dekat kantin. Salma dan Dinda berjalan lagi menuju kantin.

Santi berkata,”Tuh, dia juga tidak berkata terima kasih! Masa kamu mau bantu dia, sih?” Salma menjawab,”Sudahlah.. Kasihan dia..” Saat mereka sampai di kantin, bel berbunyi nyaring. Itu tanda bahwa mereka harus kembali ke kelas karena waktu istirahat telah selesai. Santi hanya bersungut-sungut karena mereka tak sempat jajan.

Dinda kembali ke kelas saat ibu guru sudah di kelas. Ibu guru mempersilahkan Dinda duduk, kemudian mulai mengajar Bahasa Indonesia. Ibu guru memberi tugas membuat sinopsis novel. Dinda kebingungan karena dia tidak mempunyai novel. Akhirnya, dia menuju bangku Salma saat bel berbunyi dan berkata, “Sal, boleh tidak aku meminjam novelmu? Aku tidak punya novel, nih..” Salma menjawab,”Boleh,boleh, kebetulan aku bawa satu. Besok kembalikan ya!” Perkataan Salma diikuti anggukan Dinda.

Sepulang mereka dari sekolah, Salma mengantar Dinda pulang ke rumahnya. “Bye Sal..” Dinda masuk ke rumahnya. Salma hanya diam dan berpikir, bahwa sepertinya benar kata Santi. Dinda terlalu manja dan tidak pernah berkata terima kasih. Tetapi, semua itu buyar setelah Salma mengayuh sepedanya lagi.

Sampai di rumah, Dinda ingin belajar IPS, karena besok ulangan. Tapi, dia baru ingat bahwa saat di sekolah Dinda meminjam catatan IPS nya. Jadi, dia kembali ke rumah Dinda. Sesampainya di rumah Dinda, dia berteriak,”Dinda, Dinda” Dinda keluar dari rumahnya. “Ada apa Sal?” Tanya Dinda. “Buku IPS ku dimana?” Tanya Salma. Dinda seperti dihujat tombak besar, karena raut wajahnya sangat kaget dan takut. “m..maaf ya.. Buku IPS mu.. masih di.. tukang fotokopi..” Jawab Dinda ketakutan. Mata Salma menjadi berkaca-kaca, tetapi Santi datang tiba-tiba.

“Sudah kuambilkan.. Nih, Sal. Aku sudah menebak bahwa Dinda pasti lupa mengambilnya. Dinda, apa kamu tidak pernah berterimakasih kepada Salma? Dia sudah mengantarmu, dia sudah meminjamkan buku dan novel.. Tetapi, kamu sangat ceroboh dan manja, sehingga inilah akibatnya.” Santi berkata panjang lebar. Salma akhirnya berteriak, “STOP!SAMPAI DISINI SAJA! Mulai sekarang, aku tidak akan menggunakan kebaikanku untuk dimanfaatkan olehmu. Kamu seharusnya malu! Kamu tidak pernah berterimakasih, tidak pernah berusaha sendiri! Jadi mulai sekarang, perbaiki sifatmu yang manja itu!”

Santi dan Salma pergi tanpa pamit kepada dinda, yang sekarang mukanya memerah karena malu sekali. Santi berkata,”Akhirnya.. Kamu hebat juga bisa membentaknya seperti itu!” Salma menjawab,” Ya, karena aku tidak tahan lagi dengan kemanjaannya.. Sekarang sudah berubah! Aku tidak akan lagi membantu dia jika dia bisa berusaha sendiri, agar dia mandiri dan tidak manja.”

Santi menjawab,”Ngomong-ngomong, lucu sekali tadi kamu saat berkata STOP! Hahahahahaha!!” Salma mengulanginya, ” STOPPP!!” Mereka pun tertawa dan pergi bersama ke rumah Salma, karena mereka akan belajar IPS bersama. Wajah Raja Siang tak lagi bersinar terang, melainkan telah turun dan tenggelam setengahnya. Sedangkan burung-burung kembali ke sarangnya, dan angin menerpa daun-daun hijau, dan menggugurkannya. Tetapi, suasana persahabatan Salma dan Santi tetap terasa. Akhirnya, sang raja siang seolah-olah tersenyum senang melihat persahabatan mereka.

Pesan moral: Bantulah sesama kita, tetapi jangan biarkan mereka bermanja kepada kita. Berilah kesempatan kepada mereka untuk berkembang mandiri.
______________________________________________________________________________________________________
Sumber: Asli dan Murni, tak mengcopy


Responses

  1. nice”..!!>.<
    bgus cerpen'a..bahasanya juga udah kek novelis..hhahahaha..XD

    • Ah itu jg pake mikir smpe puyeng.. Thank you for the comment and your visit! Have a nice day!
      ___________________________________________________________________
      Like my blog? Visit me again!😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: